Pernah Terjerat Korupsi, Mantan Kades di Kebumen Ditahan Lagi karena Aniaya Istri

Posting Komentar


Mantan Kades Ayamputih Kecamatan Buluspesantren inisial SY alias Gonder (45) harus kembali berurusan dengan polisi. 


Ia yang sempat dipenjara karena kasus korupsi kini harus kembali terjerat kasus hukum.


Tetapi perkara sekarang lain.  Ia dituduh menganiaya mantan istrinya hingga berujung laporan ke polisi. 


Kapolres Kebumen AKBP Piter Yanottama melalui Kapolsek Buluspesantren AKP Sumardi mengatakan, tersangka ditangkap setelah dilaporkan mantan istrinya, NN (35) warga Desa Klegenrejo Kecamatan Klirong.


"Penganiayaan terjadi pada hari Minggu (11/4) sekitar pukul 11.00 WIB di objek wisata Pantai Ayamputih," jelas AKP Sumardi, Kamis (29/4).


Penganiayaan dipicu gegara tersangka sakit hati saat anaknya ditemui korban tanpa seizinnya.


Dalam kesehariannya, anak tersebut tinggal bersama bapaknya yang kini tersangka.


Sang ibu rupanya kangen dengan buah hati sehingga memutuskan untuk bertemu. 


Sebelum terjadi penganiayaan, keduanya sempat cek-cok mulut yang berujung pemukulan kepada korban.


Tersangka l, kata dia, memukul korban dengan gelas kaca tepat mengenai kepala bagian belakang. 

Mantan Kades Ayamputih Kebumen ditangkap karena diduga menganiaya istrinya, Kamis (29/4/2021)


Korban mengalami luka robek dengan panjang 6 cm dan harus menjalani rawat inap di RSDS Kebumen. 


"Dari kejadian itu, lantas korban tidak terima dan melaporkan ke Polsek Buluspesantren, " katanya

Selain mengamankan tersangka, untuk kepentingan penyidikan, polisi turut menyita barang bukti pecahan kaca dari gelas yang digunakan untuk memukul korban.

Kepada polisi, Gonder mengaku menyesal telah menganiaya mantan istrinya.  Namun nasi telah menjadi bubur. Semua sudah terjadi.

Gonder dijerat dengan Pasal 351 Ayat (2) KUH Pidana, dengan ancaman hukuman selama-lamanya lima tahun penjara. 

Padahal Gonder sebelumnya pernah divonis tiga tahun penjara dalam perkara korupsi di Pengadilan Tipikor Semarang. 

Perkara yang menjerat Gonder itu terkait penjualan tanah kas desa dengan kerugian negara mencapai Rp 425 juta, saat masih menjabat Kades pada tahun 2010 silam.

Hasil penjualan tanah kemakmuran desa itu, ternyata tidak diserahkan ke desa, melainkan masuk ke kantong pribadinya.


Related Posts

Posting Komentar